Tampilkan postingan dengan label Filsafat - Spiritualitas - Motivasi / Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat - Spiritualitas - Motivasi / Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 29 Juni 2013
Ketika Budaya Terbentuk sebagai Persepsi
Sebagai seorang manusia yang dari abad ke abad menciptakan budaya dan teknologi untuk kebutuhan dan tuntutan zaman. Sehingga kita terkadang tidak mau bahkan segan untuk memahami data mentah. Kita terbiasa menyantap konteks data matang. Kepraktisan dan efisiensi yang kita idamkan menjadi santapan kita sehari-hari. Sama halnya dengan budaya zaman yang terus memikat kehidupan kita. Budaya dan tradisi seolah hal yang tidak terpisahkan dalam proses menjalani kehidupan. Tanpanya kita seperti individu atau masyarakat yang tidak memiliki kelengkapan hidup. Padahal budaya sudah dari awal membentuk dan terbentuk menjadi persepsi moralitas.
Keberadaan persepsi tersebut selalu dan selalu memobilisasi setiap pergerakan mental dan tindakan kita. Dapat dikatakan bahwa persepsi tersebut menjadi semacam esensi yang sejajar dengan kebutuhan kita sebagai makhluk bernaluri. Budaya terbentuk sebagai persepsi dengan dasar pengertian yang maknawi, disebabkan adanya korelasi antara kebutuhan dengan kemampuan yang berasumsikan kebiasaan untuk menjalaninya. Oleh karena itu, bagaimana caranya kita menjalani sistemik budaya untuk hal yang positif, bukan bertujuan yang destruktif bagi masyarakatnya.
Selasa, 25 Mei 2010
Konsep Bilangan Relasi Semesta
Semesta...
Ia menuntun kita untuk menemukan apa yang masih samar dan gelap.
Dengan menyaring debu, dan menangkap pesan-pesan apa yang disampaikan oleh alam semesta.
Secara keseluruhan, energi selalu tetap kuantitasnya. Adalah energi kosmik (kosmos) yang melewati ruang dan kecepatan cahaya..
Secara pasti, kita hidup terkadang merasakan kesendirian, bahkan saja malah merindukan kesendirian dengan kondisi sunyi dan senyap. Akan tetapi, realita mengatakan bahwa diri kita tidak akan sendiri. Sebab secara fisik ilmiah maupun spiritual kita merupakan bagian dari energi kosmik yang berelasi satu sama lain. Meskipun sebagai banyak objek, kita berbeda-beda jenis atom.
Jika dipahami bahwa bilangan tepenting (fundamental numeric) dalam konsep relasi semesta/ kehidupan, terdiri dari 2 varian yaitu:
1 dan 0 (bisa juga 0 dimaknakan infinitive/ tak terhingga).
Keabstrakan/ketiadaan suatu hal secara falsafah dinilai sebagai hal yang tak terhingga / maha / semesta. Varian dari bilangan 1 dan 0, dijabarkan melalui hukum dasar energi dan materi menurut filosofis kuantitasnya (jumlahnya). Kedua varian tersebut juga dimaknakan melalui kelogisan entitas.
Consept explanation (Penjelasan Konsep) :
- Menjadi bilangan 1, saat suatu objek atau individu atau atom terpisahkan dari objek lainnya, dan lalu objek tersebut dinilai satu. Ketika individu merasa sendiri yang padahal dibentuk oleh persepsi perasaan saja / disebabkan ketidakseimbangan hormonal. Kita sebagai individu atau objek menarik diri dari kondisi sekitar/ keadaan tertentu yang mungkin mengganggu. Kita merasakan kesendirian atau terpilah dari lainnya, maka kita menganggap diri kita hanya satu dan berbeda dengan satu lainnya.
Dalam hal ini bagi setiap individu/ variabel apapun memiliki nilai 1.
- Menjadi bilangan 1 pula, bahwa meskipun sangat banyak individu/ variabel yang berbeda karakteristik. Akan tetapi, seluruhnya tetap merupakan kesatuan dari semesta, karena tiap atom dari kita adalah energi yang sinkron, maka dinilai 1. Dalam ruang semesta terdapat milyaran objek bahkan lebih, namun dari objek-objek tersebut secara keseluruhan kita adalah satu. Tiap atom dari kita memiliki energi yang terkait atau terkorelasikan dengan atom lainnya. Makhluk adalah energi, seluruhnya merupakan energi, dan keseluruhan energi adalah satu.
- Menjadi bilangan 0 atau tak terhingga, menjelaskan bahwa secara esensi, kita adalah substansi yang jumlahnya/ kuantitasnya tak terhingga. Sebab realitanya, kita bagian dari alam semesta/ kosmos. Setiap materi layaknya atom & partikel cahaya merupakan bagian dari kesemestaan yang sesungguhnya tak terhingga. Jumlah dari semesta berikut energi kosmik adalah tak terhingga.
Dari konsep diatas, sangat banyak point dan hal yang bisa kita simpulkan. Saya mencoba menjabarkan berbagai konteks fisik dan spiritual secara komprehensif. Baik fisik maupun psi plasma, seutuhnya memiliki korelasi yang selalu bisa dianalisa. Dan baik sesuatu hal yang sederhana maupun kompleks, tetap memiliki korelasi yang tidak bisa dipisahkan, tentu saja begitu.
Rasionalitas selalu bisa kita gali dalam alam bawah sadar.. Banyak informasi yang sesungguhnya tak terbatas dan berkelimpahan dalam bawah sadar kita.
Salah satu kesimpulan yang saya ungkap adalah nilai relasi semesta sebenarnya relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita mengamati.
Albert Einstein, mengungkap hukum relativitas yang selanjutnya akan membuka makna energi dan kuantum. Relativitas mengungkap ketergantungan suatu pernyataan tentang materi dan energi yang sebenarnya relatif secara sudut pandang yang ada. Suatu persepsi memiliki nilai relatif untuk yang mengamati.
Suatu kebenaran yang mutlak pun adalah relatif, karena kebenaran adalah persepsi yang sangat tergantung bagi yang menilai dan mengobservasi.
Namun dari banyak perbedaan pandangan yang ada merupakan nilai kesatuan dari semesta yang tak terhingga.

I hope that I constructed and explained the consept for help our thinking,,
For better our world in the future and knowledge of spiritual and metaphysics.
Ia menuntun kita untuk menemukan apa yang masih samar dan gelap.
Dengan menyaring debu, dan menangkap pesan-pesan apa yang disampaikan oleh alam semesta.
Secara keseluruhan, energi selalu tetap kuantitasnya. Adalah energi kosmik (kosmos) yang melewati ruang dan kecepatan cahaya..
Secara pasti, kita hidup terkadang merasakan kesendirian, bahkan saja malah merindukan kesendirian dengan kondisi sunyi dan senyap. Akan tetapi, realita mengatakan bahwa diri kita tidak akan sendiri. Sebab secara fisik ilmiah maupun spiritual kita merupakan bagian dari energi kosmik yang berelasi satu sama lain. Meskipun sebagai banyak objek, kita berbeda-beda jenis atom.
Jika dipahami bahwa bilangan tepenting (fundamental numeric) dalam konsep relasi semesta/ kehidupan, terdiri dari 2 varian yaitu:
1 dan 0 (bisa juga 0 dimaknakan infinitive/ tak terhingga).
Keabstrakan/ketiadaan suatu hal secara falsafah dinilai sebagai hal yang tak terhingga / maha / semesta. Varian dari bilangan 1 dan 0, dijabarkan melalui hukum dasar energi dan materi menurut filosofis kuantitasnya (jumlahnya). Kedua varian tersebut juga dimaknakan melalui kelogisan entitas.
Consept explanation (Penjelasan Konsep) :
- Menjadi bilangan 1, saat suatu objek atau individu atau atom terpisahkan dari objek lainnya, dan lalu objek tersebut dinilai satu. Ketika individu merasa sendiri yang padahal dibentuk oleh persepsi perasaan saja / disebabkan ketidakseimbangan hormonal. Kita sebagai individu atau objek menarik diri dari kondisi sekitar/ keadaan tertentu yang mungkin mengganggu. Kita merasakan kesendirian atau terpilah dari lainnya, maka kita menganggap diri kita hanya satu dan berbeda dengan satu lainnya.
Dalam hal ini bagi setiap individu/ variabel apapun memiliki nilai 1.
- Menjadi bilangan 1 pula, bahwa meskipun sangat banyak individu/ variabel yang berbeda karakteristik. Akan tetapi, seluruhnya tetap merupakan kesatuan dari semesta, karena tiap atom dari kita adalah energi yang sinkron, maka dinilai 1. Dalam ruang semesta terdapat milyaran objek bahkan lebih, namun dari objek-objek tersebut secara keseluruhan kita adalah satu. Tiap atom dari kita memiliki energi yang terkait atau terkorelasikan dengan atom lainnya. Makhluk adalah energi, seluruhnya merupakan energi, dan keseluruhan energi adalah satu.
- Menjadi bilangan 0 atau tak terhingga, menjelaskan bahwa secara esensi, kita adalah substansi yang jumlahnya/ kuantitasnya tak terhingga. Sebab realitanya, kita bagian dari alam semesta/ kosmos. Setiap materi layaknya atom & partikel cahaya merupakan bagian dari kesemestaan yang sesungguhnya tak terhingga. Jumlah dari semesta berikut energi kosmik adalah tak terhingga.
Dari konsep diatas, sangat banyak point dan hal yang bisa kita simpulkan. Saya mencoba menjabarkan berbagai konteks fisik dan spiritual secara komprehensif. Baik fisik maupun psi plasma, seutuhnya memiliki korelasi yang selalu bisa dianalisa. Dan baik sesuatu hal yang sederhana maupun kompleks, tetap memiliki korelasi yang tidak bisa dipisahkan, tentu saja begitu.
Rasionalitas selalu bisa kita gali dalam alam bawah sadar.. Banyak informasi yang sesungguhnya tak terbatas dan berkelimpahan dalam bawah sadar kita.
Salah satu kesimpulan yang saya ungkap adalah nilai relasi semesta sebenarnya relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita mengamati.
Albert Einstein, mengungkap hukum relativitas yang selanjutnya akan membuka makna energi dan kuantum. Relativitas mengungkap ketergantungan suatu pernyataan tentang materi dan energi yang sebenarnya relatif secara sudut pandang yang ada. Suatu persepsi memiliki nilai relatif untuk yang mengamati.
Suatu kebenaran yang mutlak pun adalah relatif, karena kebenaran adalah persepsi yang sangat tergantung bagi yang menilai dan mengobservasi.
Namun dari banyak perbedaan pandangan yang ada merupakan nilai kesatuan dari semesta yang tak terhingga.

I hope that I constructed and explained the consept for help our thinking,,
For better our world in the future and knowledge of spiritual and metaphysics.
Selasa, 27 April 2010
Membaca melalui konsep dan teori berbeda dengan kondisi mengalami
Banyak diantara masyarakat pada umumnya hanya melalui membaca, menonton data matang lalu memberikan kritikan dan macam asumsi masing-masing terhadap obyek yang ada. Namun tidak berpikir, bagaimana bila posisi kita yang mengalami? Pernahkah kita berada dalam posisi objek yang ada. Karena dengan mengalaminya sendiri ke dalam data yang mentah, maka kita pasti akan mampu menjustifikasi keadaan kita. Terlalu banyak dari kita hanya bisa membuat asumsi sendiri setelah itu melakukan justifikasi dan punishment terhadap objeknya. Ini sudah menjadi kebiasaan buruk atau budaya yang ada di masa kini. Sekarang ini modenya memilih penggunaan logika daripada penggunaan kekuatan fisik seperti era zaman dulu. Sehingga munculnya pemikiran-pemikiran yang ada di ubah menjadi semacam konsep dan teori-teori yaitu data matang yang harus dibaca dan dihafal. Sebelum munculnya berbagai konsep maupun teori ada hal yang harus dialami, pengertiannya sebelum data yang matang harus ada data yang mentah.
Budaya sekarang ini lebih mengedepankan keadaan matang daripada merasakan data mentahnya sebagai yang ikut mengalami. Karena sudah menjadi sebuah budaya sehingga budaya semacam itu merupakan terali besi yang selalu mengikat kita. Budaya yang ada saat ini adalah pengamatan objective mengamati objek dari ranah luar sehingga pengalaman yang kita dapat cenderung melalui posisi penglihatan dan mengambil asumsi yang ada saja. Pengamatan secara subyective seolah telah menjadi hal yang terlupakan. Seandainya budaya yang kita gunakan melalui pengamatan subyective maka kita akan mengambil posisi pada ranah dalam, posisi yang mengalami pengkondisian. Sehingga apa yang kita rasakan juga melalui data mentah dan tidak asal mengambil asumsi dan punishment.
Empati menjadi Kebutuhan Fundamental antar Individu

Peranan individu dengan individu lainnya adalah saling menopang dan mengisi potensi berdasarkan kemampuannya masing-masing. Sehingga dalam sosialisasi antar individu dibutuhkan empati sebagai dasar relasi yang saling memahami. Proses berempati adalah proses dimana kita harus melihat segala sesuatunya berlandaskan subjektivitas dan loyalitas. Kita menjadikan objek sebagai subjek seperti kita, dalam hal ini boleh berdasarkan visualisasi, feeling ataupun netralisasi. Ketika individu dihadapkan dalam peranan sosial atau sebagai insan sosial, maka kita dihadapkan kepada kewajiban kita untuk saling memikul dan memahami potensinya masing-masing. Empati termasuk dalam konteks tindakan dasar dan aspek yang sangat sederhana sebelum segalanya berada dalam hal yang sangat kompleks. Jika empati sudah termasuk dalam konteks tindakan dasar maka kita harus terhindar dari peranan kita yang mungkin berada dalam sisi ranah oportunistik dan sarkasme. Kita mampu menghilangkan atau mengabolisi kebiasaan umum yang mendahului stigma dan diskriminasi jika kita menggunakan empati. Meskipun empati menjadi topik yang sederhana namun memiliki fungsional yang tidak bisa dihilangkan.
Mari berempati!
Senin, 22 Februari 2010
Universalitas Melawan Diskriminasi Minoritas
Banyak faktor yang menentukan terjadinya diskriminasi pada ruang lingkup sosial. Subjek yang mengikuti alur budaya dan spesifikasi pengetahuan sehingga kita berdiri dan menduduki sudut tertentu saja. Budaya yang sudah banyak kita santap dan menelannya sebagai data matang, maka kita menjadi individu atau kelompok yang terkotak-kotak. Kita tidak melihat adanya equilibrum persepsi dan empati terhadap ruang lingkup sosial. Oleh dikarenakan hal tersebut, Kita terpikat pada persepsi yang bagi kita menjadi kebenaran mutlak atau semacam "belief systems". Realita saat ini cukup menunjukkan bahwa proses diskriminasi terjadi pada banyak ruang kehidupan. Dengan adanya sistemisasi budaya yang dibentuk sebagai aturan sehingga kita terpikat persepsi tersebut dan secara tidak sadar melakukan tindakan intimidasi pada lain pihak. Kasus Srilanka pada tahun 2009-2010, menunjukkan adanya proses diskrimasi pada kaum minoritas. golongan notabene atau mayoritas melakukan abolisi untuk hak asasi manusia dari kaum minoritas. Di Indonesia, memiliki banyak sekali budaya dan keyakinan. Namun tidak jarang, sebagai kaum mayoritas keyakinan yang diantara kita melakukan diskriminasi terhadap kaum minoritas, baik secara individu maupun kelompok. Negara atau bangsa atau unit sosial, pada dasarnya memiliki sisi pluralisme tapi karena adanya notabene secara kuantitas yang signifikan, mereka secara wewenang menindas kaum minoritas.
Disinilah menyadarkan pada kita bahwa kita harus mau mengamati sebuah perbedaan serta relasinya dangan sikap universal. Ketika seseorang mau menilai segalanya dengan rasa universal, maka ia akan menghapus sisi diskriminasi golongan dan mau berpandangan subjektif pada perbedaan-perbedaan. Persepsi memang selalu memiliki kekuatan differensiasi yang terkadang parameternya absolut. Akan tetapi, universalitas akan merelokasi perbedaan persepsi dengan rasa persamaan HAM. Sisi konservatif dari budaya yang pada umumnya membutakan persamaan hak harus dihindari sehingga kita mau merealisasikan sifat universal.
Sabtu, 06 Februari 2010
Tradisi, Budaya dan Agama dipandang Baku

Beberapa nilai budaya yang sifatnya tradisi, adat atau keagamaan dalam masyarakat kita masih dianggap sebagai hal yang baku untuk menjalani sebuah kehidupan. Padahal hal tersebut memiliki nilai negatif, sebab bersifat memaksa dan malah lebih mengedepankan sikap-sikap kontra pada makna Hak Asasi Manusia. Hak terhadap kebebasan dan rasa saling menghormati dapat hilang sebab adanya nilai-nilai yang sebenarnya tidak diperlukan. Contohnya, penggunaan nilai pandang untuk membeda-bedakan sifat, essensi dan penilaan bagi seseorang tertentu. Individu yang menggunakan "aksesoris tertentu" bisa dipandang masyarakat yang baik, sedangkan yang tidak maka dipandang sebaliknya. Hal tersebut merupakan contoh dari sebuah penghilangan arti identitas dalam cara pandang adat dan keagamaan. Atau contoh lain, dalam penjustifikasian individu yang disebabkan adanya perbedaan orientasi seksual. Hal tersebut terjadi dikarenakan masyarakat yang terlalu menganggap tabu sebuah "kelainan" atau dianggap nilai "penyimpangan". Terkadang bahkan hal yang dianggap tabu tersebut justru diberikan semacam stigmatisasi (hukuman) tertentu. Padahal beberapa hal yang dianggap tabu dalam masyarakat tersebut adalah hal yang normal namun disebabkan budaya yang membelenggu atau "belief systems" yang masih dianggap baku. Hal seperti itu harus dikritisi secara cermat agar adanya keselarasan derajat dalam masyarakat. Beberapa lembaga kemasyarakatan di Indonesia terbiasa dalam menggalakkan stigma untuk hal tabu dengan alasan doktrin atau dogma agama. Belum lama, beberapa lembaga atau organisasi masyarakat mengeluarkan beberapa fatwa anti pluralisme. Sejujurnya, hal tersebut merupakan tindakan ironis yang dilakukan untuk hal yang justru tidak bisa diterima sebuah realita. Bangsa Indonesia dari sejarahnya merupakan bangsa yang pluralisme, yaitu keberagaman suku, etnis, keyakinan, budaya khas nya dan lain-lain. Fatwa anti pluralisme yang digalakkan akan menimbulkan banyak pertikaian. Sebab fatwa tersebut hanya memihak kepada satu pihak tertentu, dimana pihaknya merasa berada pada kebenaran. Sangat beruntung bahwa masyarakat ini masih cerdas untuk menolaknya. Masyarakat tanah air sudah sepatutnya menanggapi tiap keberagaman tradisi dengan nilai universal. Universal, dalam arti tidak ada pembakuan nilai tradisi yang menimbulkan perpecahan golongan tertentu. Tak perlu ada cara pandang atau nilai yang sifatnya mempojokkan pihak lain dan membakukan sebuah tradisi yang justru meningkatkan jumlah angka perpecahan. Revisi terhadap kebiasaan adat dan tradisi perlu dilakukan sebagai langkah memperbaiki hubungan sosial, baik antar ras dalam masyarakat, golongan etnis, keyakinan dan lain sebagainya. Dengan mengutamakan universalisasi dalam menciptakan hubungan individu dan masyarakat yang madani maka tujuan dalam memperbaiki hubungan strata sosial, ekonomi dan budaya akan tercapai.
Rabu, 03 Februari 2010
Bulan di Siang hari dan Mentari di Malam hari

Dalam ilmu Fengshui / falsafah china, dikenal simbol YinYang. Dalam kepribadian manusia dikenal istilah maskulinitas dan feminimitas. Mungkin banyak yang memberikan pernyataan bahwa kepribadian manusia agak sulit ditebak apabila dasarnya berganda. Berganda dalam arti nilai gradasi maskulin dan feminim seseorang memiliki kadar yang tidak relevansi. Atau mungkin kita bisa memberi pernyataan sebaliknya, kedua hal tersebut tak menjadi masalah.
Seorang pria memiliki kemungkinan nilai feminimitas-nya melebihi nilai maskulinitas-nya ataupun sebaliknya bagi wanita. Hal ini mengartikan bahwa disana tak ada yang perlu dipermasalahkan. Sebab setiap nilai kepribadian seseorang adalah hal normal. Sehingga disini kita mulai menanggapi segala bentuk kepribadian seseorang agar tidak perlu dijustifikasi. Terkadang atau mungkin sering kali, kita terbiasa melakukan proses justifikasi yang beralasan pada differensiasi kadar maskulin dan feminim individu. Padahal adanya differensiasi tersebut adalah bukti relevan-nya pluralisme. Karena pluralisme menjadi bagian dari kehidupan sosial maka kita belajar untuk saling menghargai nilai-nilai universal dan menjaga sikap konsolidasi kemanusiaan.
Bulan akan bersinar di siang hari dan Mentari akan cerah di malam hari, hal yang jelas tidak memiliki realitas. Akan tetapi kalimat tersebut merupakan simbol menjaga persatuan bukan perselisihan.
Selasa, 05 Januari 2010
Kesederhanaan Secangkir Kopi

Mungkin diantara kita banyak yang menganggap rendah setiap hal yang sederhana dan kita terbiasa menomersatukan hal yang komplikasi. Namun secangkir kopi memberikan saya sebuah persepsi lain.
Suatu sore saya menyempatkan diri untuk menyeruput secangkir kopi yang saya seduh sendiri. Secangkir kopi adalah suatu hal yang sederhana, dimana kafein adalah substansi efek yang utama didalamnya. Namun secangkir kopi dapat membuat saya tertahan tidak tidur selama semalaman. Ini memberikan persepsi bahwa ketika kita memasukkan kedalam diri kita suatu hal yang sederhana, maka kesederhanaan akan memberikan efektivitas tersendiri bagi kita sebagai objek/subjek yang kita sebut sebagai kompleksitas. Baik kita sadari atau tidak bahwa dalam kehidupan, kompleksitas yang kita rasakan sebenarnya bisa bermula dari hal yang sangat sederhana.
efektivitas
KESEDERHANAAN ------------------>> KOMPLEKSITAS
materi/nonmateri materi/nonmateri
Senin, 04 Januari 2010
Menjadi Pengamat Netral

Untuk mengetahui apa yang menjadi beban dalam perasaan hidup seseorang adalah dengan menjadi pengamat yang netral. Kita tidak langsung merujuk kepada nilai dan normatif yang ada. sehingga apa yang menjadi sikap kebiasaan layaknya "kenginan", "human egoistic" atau penilaian cap untuk seseorang telah dibuang jauh-jauh. Langsung pada contoh disini, dalam tanda kutip "melacur / prostitusi" dalam kacamata masyarakat jelas dipandang sebagai pekerjaan yang hina dan negatif. Karena hal itu kita langsung merujuk kepada nilainya. Jika saja di lingkungan kita kebetulan terdapat individu yang melakukan pekerjaan dalam tanda kutip diatas, terkadang kita langsung memberi penilaian terhadap individunya sebagai pelaku yang hina dan kotor. Bahkan kita melakukan yang lebih dari proses justifikasi yakni punishment padanya atas semau kita. Sebab memang pekerjaan tersebut dinilai negatif dan menyimpang norma susila, sosial dan agama.
Namun apabila kita menjadi pengamat yang netral, kita tidak memandangnya dengan "emotional degree" maupun "nafsu manusiwi" maupun mengarah pada nilai pandang (visual value), kita akan mengetahui lika-liku diri mereka, yang mana pasti tak seorang pun termasuk mereka menginginkan pekerjaan tersebut. Sehingga kalau lah mereka memiliki sebuah pilihan, pilihan yang menentukan job atau karir mereka. Katakan pilihan job sebagai manager bank atau "pelaku prostitusi", ya jelaslah mereka memilih first choice. Pengertiannya bahwa memang tak seorang pun termasuk mereka menginginkan sebuah pekerjaan yang dikatakan menyimpang norma. Karena memang faktor yang menentukan karir seseorang berdasarkan tingkat strata sosial dan perekonomiannya, jelas.
Jadi jika kita menjadi pengamat yang netral terhadap diri mereka, maka kita akan tahu diri mereka yang sesungguhnya, tanpa kita landasi dengan humanity emotional. Dan kita lebih mau bersikap empati bahkan sekaligus solusi yang baik, bukannya mengutamakan judgement dan punishment.
Melihat Pribadi yang Asli Dalam Ruang Kematian
Yang masih diketahui selama ini, "ruang kehidupan" hanya mengenal dua dimensi, dimensi ruang dan waktu. Ketika terakhir kalinya si Einstein memperkenalkan waktu sebagai dimensi kepada masyarakat dunia. Namun sadarkah, masih banyak kemungkinan adanya dimensi lain selain dua dimensi yang saat ini dikenal.
Saat ini tak akan menulis, dimensi apa yang ada dalam ruang kehidupan, selain ruang dan waktu? Namun seperti apakah diri pribadi yang ada dalam ruang kematian? Dalam hidup dari lahirnya pribadi ini, kita sudah diperkenalkan adanya objek materi, adanya budaya, adanya keyakinan, adanya ragam dan warna-warni kehidupan. Namun ketika diri kita berada dalam ruang kematian, segalanya tidak akan berguna, termasuk pakaian, budaya dan materi yang sebenarnya hanya tempelan dan hiasan belaka.
Nenek moyang terdahulu telah mempelajari objek kehidupan, pengetahuan dan menciptakan sebuah budaya yang mungkin masih kita gunakan, tapi dalam ruang kematian, yang telah dilihat dan rasakan itu tak lain hanyalah tempelan belaka. Sebab yang asli dalam diri manusia hanyalah "kesadaran". Sebelum diri kita menjadi jabang bayi dan setelah fisik ini mati, kita tetaplah sadar bahwa kita sadar, namun yang tidak bisa dibawa oleh kesadaran seutuhnya adalah kapasitas memori (ingatan). Ingatan hanya tidak seutuhnya dianggap oleh kesadaran. Why? sebab kesadaran hanya mengenal diri yang saat ini, bukan saat lalu dan masa depan. Walaupun diri pribadi mempunyai daya ingat terhadap peristiwa masa lalu.
Semesta memiliki kesadaran yang tak terhingga dan individu ini adalah bagian dari kesadaran tak terhingga yang bisa disebut sebagai kesadaran kecil. Sehingga tanpa perlu berusaha kita mereka-reka pendeskripsian individu dalam ruang kematian, individu tetaplah hanya sebuah "kesadaran".

Saat ini tak akan menulis, dimensi apa yang ada dalam ruang kehidupan, selain ruang dan waktu? Namun seperti apakah diri pribadi yang ada dalam ruang kematian? Dalam hidup dari lahirnya pribadi ini, kita sudah diperkenalkan adanya objek materi, adanya budaya, adanya keyakinan, adanya ragam dan warna-warni kehidupan. Namun ketika diri kita berada dalam ruang kematian, segalanya tidak akan berguna, termasuk pakaian, budaya dan materi yang sebenarnya hanya tempelan dan hiasan belaka.
Nenek moyang terdahulu telah mempelajari objek kehidupan, pengetahuan dan menciptakan sebuah budaya yang mungkin masih kita gunakan, tapi dalam ruang kematian, yang telah dilihat dan rasakan itu tak lain hanyalah tempelan belaka. Sebab yang asli dalam diri manusia hanyalah "kesadaran". Sebelum diri kita menjadi jabang bayi dan setelah fisik ini mati, kita tetaplah sadar bahwa kita sadar, namun yang tidak bisa dibawa oleh kesadaran seutuhnya adalah kapasitas memori (ingatan). Ingatan hanya tidak seutuhnya dianggap oleh kesadaran. Why? sebab kesadaran hanya mengenal diri yang saat ini, bukan saat lalu dan masa depan. Walaupun diri pribadi mempunyai daya ingat terhadap peristiwa masa lalu.
Semesta memiliki kesadaran yang tak terhingga dan individu ini adalah bagian dari kesadaran tak terhingga yang bisa disebut sebagai kesadaran kecil. Sehingga tanpa perlu berusaha kita mereka-reka pendeskripsian individu dalam ruang kematian, individu tetaplah hanya sebuah "kesadaran".
Intensitas Empati dan Sugesti

Empati didasarkan pada arah pandangan subjektif yang mendobrak apa yang dirasakan orang lain. Tanpa menggunakan dogma aritmatika, siapapun bisa melakukan proses empati. Karena empati hanya berdasarkan pada feeling dan kepribadian dan realitas sosial. Tanpa memandang dan menilai dari sudut status sosial dan point-point lainnya, empati dapat dilakukan secara bebas dan kontinuitas. Akan tetapi yang harus dijadikan prinsip dasar adalah pelaku harus menjadi posisi yang netral, tanpa value positif maupun negatif dan tidak bersikap menjustifikasi.
Sugesti merupakan tindakan ego yang berpengaruh terhadap perilaku materi maupun nonmateri. Tanpa didasarkan pada nilai positif maupun negatif, kesimpulannya posisi netral. Dalam hal ini dilakukan sebagai proses pengalihan titik individu yakni perilaku, daya pikir, perasaan dan pengaruh mentalitas.
Be Your Guide

Jika seseorang bertanya pada diri saya bahwa siapakah seseorang yang menjadi panutan saya? Dengan jelas saya katakan bahwa diri saya lah yang merupakan panutan. Akan lebih baik, apabila kita menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri atau memiliki kepercayaan pada diri kita. Dalam hal ini, bukan berarti kita egois dalam rasa kepeceryaan terhadap orang lain dan bukan memberi pengertian bahwa kita tidak bisa menjadi individu yang lebih baik. Akan tetapi, seberapa besar kita kita mampu menghargai keberadaan kita saat ini. Banyak individu mungkin menjadikan orang lain sebagai panutannya. Orang lain tersebut digambarkan sebagai figur yang lebih baik dari dirinya. Tapi, sadarkah dalam hal itu, ia sudah terikat oleh persepsinya. Terikat dalam berpikir dan bertindak. Ia merasa bahwa ia belum sehebat atau eksisnya rendah daripada sisi panutannya. Maka, sadar maupun tidak, ia terus terbelenggu oleh kepercayaan bahwa sisi panutannya selalu yang terhebat dari dirinya. Terkadang hal tersebut bisa menciptakan pesimisme dan skeptisisme pada ruang individu. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa diri kita saat ini sudah memiliki keadaan apa adanya dan menghargai kemampuan kita. Namun keinginan untuk lebih mampu lagi tetaplah ada. Mulai saat ini, kita bisa menghargai "kekinian" kita dan tidak seharusnya kita terpaku pada rasa "kekurangan" yang ada.
Anda adalah panutan anda, tapi sikap bijaksana tetaplah eksistensi dari seorang panutan anda. Enjoy yourself, receive yourself.
Jumat, 25 September 2009
Tujuan Ibadah bukan sekedar "to get your rewards"
Apakah tujuan ibadah sebagai pencarian reward atau pahala.
Orang awam pada umumnya hanya memaknai ibadah selama ini sebatas untuk menambah reward atau mendapatkan surganya tuhan. Tak banyak orang berpikir bahwa ibadahnya selama ini untuk kecintaannya pada tuhan dan mencari keridhoan dari tuhan. Karena masih terlalu banyak orang berpikir bahwa ia melakukan sebuah kebaikan demi imbalan, imbalan yang setimpal dan yang telah ditetapkannya.

Kalau kita beribadah dengan tujuan yang fokus terhadap sebuah kecintaan kita pada yang kuasa, sudah otomatis bahwa reward darinya juga akan datang dengan sendirinya.
Kita harus bertanya apakah hidup kita saja sudah diridhoi dan mendapatkan cintanya? Jangan terlalu memfokuskan reward apa yang akan kita dapatkan. Hal itulah yang seharusnya dijadikan titik kontemplasi kita, selama kita masih hidup.
Orang awam pada umumnya hanya memaknai ibadah selama ini sebatas untuk menambah reward atau mendapatkan surganya tuhan. Tak banyak orang berpikir bahwa ibadahnya selama ini untuk kecintaannya pada tuhan dan mencari keridhoan dari tuhan. Karena masih terlalu banyak orang berpikir bahwa ia melakukan sebuah kebaikan demi imbalan, imbalan yang setimpal dan yang telah ditetapkannya.

Cara berpikir hal seperti itu tak ada salahnya, namun akan lebih baik lagi apabila seseorang beribadah atau melakukan sebuah kebaikan demi menerima kecintaan dan keridhoan dari tuhan. Cinta yang sangat luar biasa pada tuhan karena kita masih diberikan kehidupan, kesehatan dan anugerah untuk melakukan perbaikan di atas bumi ini. Meminta keridhoannya sebagai alasan mengapa kita diberi kesempatan untuk hidup. Manusia yang diberi keridhoan untuk menjadi khalifah di dunia ini.
Kalau kita beribadah dengan tujuan yang fokus terhadap sebuah kecintaan kita pada yang kuasa, sudah otomatis bahwa reward darinya juga akan datang dengan sendirinya.
Kita harus bertanya apakah hidup kita saja sudah diridhoi dan mendapatkan cintanya? Jangan terlalu memfokuskan reward apa yang akan kita dapatkan. Hal itulah yang seharusnya dijadikan titik kontemplasi kita, selama kita masih hidup.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


